Puisi Dari Seorang Kawan #1
#1 Seharusnya
Seharusnya ‘bijak’ menjadi nama tengahmu, agar aku tak lelah ditelisik sedikit-sedikit amarahmu
seharusnya ’sabar’ menjadi nama depanku, agar tak ada lagi agar-agar basi yang kusisakan dipiringmu.
Menohok lalat-lalat berwarna hijau,
wanginya menyengat,
bagai ranjau,
pada sederet jaring-jaring pukat.
Bijak menyapih sabar,
jadilah pincang,
sabar mencibir bijak,
begitu lancang.
Seharusnya, bijak menari bersama sabar di lantai dansa diterangi kerlip bintang.
Seharusnya,
iya seharusnya…
-
#2 Serenada ‘Sebuah Arsip’ Merah
Seseorang mengatakan cinta mati yang diaduh-aduh pada segelas kopi arabica, hitam pekat tapi mahal!
Sungguh naif, menjual cinta mati pada bilik tulang rusak.
Dia berteriak tak jelas, menjanji cinta semanis madu sekuali gula-gula.
Katanya aku cintaimu, pada samudera hindia, yang , BAH! Luas samudera hindia saja dia tak tahu.
Hitungan waktu memberi, tentu saja batasan pada perasaan itu.
Kau tak tahu, bahwa dia yang katanya bersujud, sumpah, dan segala janjinya untuk kau, telah meluapkan semuanya pada palung bernama ’sombong’
Dia yakin, kau mampu takluk di kakinya, menyembah-nyembah nelangsa, mengikat dendronmu dengan sianida lekat, sehingga sakau kau!
Dia bersumpah, kau satu-satunya, tercantik dalam galaksi bima-sakti, dimana bumi memiliki putaran revolusi pada matahari.
Tahukah kau? Kecantikanmulah yang akan terbakar oleh panas matahari, seketika saat massa merayap perlahan.
Sebab dia dengan kesombongannya berusaha menancapkan seluruh tentakel cinta, yang dicipta karena ’sebab’ tanpa ada keikhlasan.
-serenada bulan november-
-
#3 Merengkuh hujan
Semburat titik tak berwarna.
Berkondensasi mencipta partikel uap.
Ada bau yang meruap.
Gurat air tak berwarna.
Sebab pada hujan, Tuhan menitip makna.
Pun pada hujan, anugerah terseok tercipta.
Sebab pada hujan, Tuhan mengguncang murka.
Atas tindak insan yang semena-mena.
Hujan, hujan yang bertumpuk pada awan,
ah, terlalu cepat kau singgah.
Parkir Berlangganan dan Asuransi
Masih nyambung tulisan saya kemarin yang menceritakan proses mengurus proses pembayaran pajak STNK secara mandiri tanpa calo. Tadi pagi saya coba teliti, total Rp.234.000,- itu mencakup biaya apa aja.
Sekarang zamannya transparan dong. Kalau ngga mau terbuka, KPK siap beraksi. Hehehe… (padahal bukan anggota KPK ).
Ternyata apa yang dibayarkan, selain pajak, mencakup 2 hal lagi. Apa itu?
Share on FacebookNgurus Sendiri, Tanpa Calo
Pagi ini, saya terpaksa mengurus sendiri pembayaran pajak tahunan STNK sepeda motor di Samsat Sidoarjo. Ngga bisa lewat drive thru karena STNK bukan atas nama saya, tapi ayah.
Karena itu, terpaksa mengurus secara manual. Memang memakan waktu, tapi apa daya. Daripada kena denda gara-gara telat bayar pajak STNK tahunan.
Kebijakan polisi yang melarang calo beredar di dalam area samsat, membuat mereka pada rame di luar. Anda datang, bakal disambut bak artis saja. Sayang, bukan minta tanda tangan tapi menawarkan jasa pengurusan administrasi.
Share on FacebookKeperkasaan Label SNI
Coba perhatikan status salah seorang teman saya di atas. Sebuah status ungkapan keprihatinan atas temannya yang ditilang oleh Polisi.
Kalau Anda berpikir temannya tidak pakai helm standar SNI, itu benar sekali. Malah helm yang dipakai oleh teman itu standarnya jauh lebih perfect dari SNI, yaitu DOT.
Di lapangan prinsip polisi “No SNI = Tilang”. Okelah kalo yg standarnya di bawah SNI. Tapi kalau ternyata di atas SNI masih ditilang juga, ini yang bodoh siapa yah?
Share on FacebookPeka dan Peduli Pada Hal-Hal Sepele
Kemarin lusa ketika saya berangkat ke Kantor Adpel Tg.Perak untuk menjemput ibu (Dharma Wanita di kantor ayah), saya kaget.
Rupanya agak teledor juga hingga saya baru sadar kalau bensin sepeda motor udah sekarat mau habis. Perjalanan dari Sidoarjo ke Perak masih 1/2 perjalanan.
Keadaan diperparah dengan posisi saya yang memang jauh dari pom bensin manapun. Saya pun mengurangi kecepatan untuk menghemat bensin.
Share on Facebook



