19
2011
Hidup Itu Sederhana, Kita Yang Membuatnya Rumit
Tadi pagi, ditengah-tengah kepadatan kerja saya menyelesaikan blog milik klien, iseng saya buka Facebook. Sekilas saya melihat ada account Facebook Ary Ginanjar Agustian, founder ESQ Character Building. Beliau baru saja update status yang sederhana dan menceritakan tentang kesederhanaan itu sendiri.

Bahagia Dalam Kesederhanaan
Saya langsung teringat pada salah satu tulisan tentang “Hidup Itu Sederhana” di blog ini, hasil dari rangkuman tweet tentang kesederhanaan hidup saya di twitter.
Hidup memang sejatinya sederhana. Lihatlah bagaimana kehidupan orang dulu-dulu yang tetap bahagia dalam kesederhanaan mereka. Mereka tidak berpikir macam-macam. Pun kebutuhan hidup hanya sebatas yang benar-benar dibutuhkan. Gaya hidup belum menjadi sesuatu yang begitu dominan, tidak seperti saat ini.
Lantas apakah kita perlu menjadi jadul dan seperti orang dulu? Tidak. Kita boleh saja tetap update dengan perkembangan zaman. Tetap peduli dengan gaya hidup. Yang kurang tepat adalah ketika kemudian makna kebahagiaan menjadi amat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Padahal, letak bahagia sesungguhnya ada di dalam hati.
Kita lantas berpikir, dengan kekayaan yang melimpah kemudian bisa mendapatkan sebuah kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan. Walaupun peluangnya lebih baik, belum tentu juga. Banyak juga orang yang diberi kesempatan hidup berkelimpahan namun justru tidak bisa menikmati. Bahkan mereka hidup dalam kehampaan setelah semua yang diinginkannya terpenuhi.
Iya kalau kemudian memang kita berjodoh dengan kondisi hidup yang berkualitas. Bagaimana bila ternyata Tuhan berkata lain, dan kita hanya diberikan peran yang biasa-biasa saja. Berkecukupan, tidak terlalu melimpah. Dan bagaimana pula bila ternyata peran kita adalah sebagai orang susah? Maka disini kita perlu merenung lagi apa sebenarnya yang kita kejar selama ini dan apa misi utama kita hidup. Apakah hanya mengejar dunia semata?
Tanpa mengenyampingkan upaya yang terus kita lakukan untuk memperbaiki kualitas hidup, mari kita sama-sama mencoba menyelami ke dalam diri kita. Melakukan inner journey dan mencari tahu apa sebenarnya kebahagian sejati. Kebahagiaan yang tidak dipengaruhi oleh faktor dari luar. Kebahagiaan yang bisa membuat kita tetap bersyukur apapun kondisinya.
Hidup menjadi sederhana saat kita bisa menemukan kebahagiaan dari dalam. Kalau bisa disederhanakan, kenapa harus dibuat rumit? Yang benar-benar kita butuhkan tidak banyak sebenarnya. Tapi keinginan tiada batas lah yang kemudian membuat segalanya menjadi kompleks. Dan pada akhirnya, ada harga yang harus dibayar bagi mereka yang memang memilih untuk melewati jalan yang rumit demi memenuhi jutaan keinginan di diri.
Semua ini memang tentang sebuah pilihan. Yap, kita hidup untuk selalu memilih, membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan kita.
Berlangganan Artikel via Email ! Anda akan mendapatkan update terbaru via email dengan memasukan alamat email anda pada kotak di bawah ini lalu tekan "Berlangganan".

An article by

Betullll…. Berdasarkan pengalaman saya, hidup sederhana (dalam arti luas) memang bisa membuat hati ini tenang dan damai. Tsaaaah… bahasanya….
Mimpi memang harus tinggi, tapi jangan sampai hal seperti itu membuat kita kehilangan kebahagiaan….
@Ditter, makanya pengelolaan hati (emosional dan spiritual) mesti dijaga