13
2011
Arrrghhh…!
Pernah menyimpan rasa marah atau emosi yang berlarut-larut? Terpendam dan tidak terucap karena yang dituju levelnya lebih tinggi, entah dari segi usia ataupun jabatan? Saya merasakan itu dalam beberapa minggu terakhir ke senior saya. Apalagi kami harus hidup dalam satu rumah, bekerja dalam satu tim, pokoknya hidup bersama sampe bikin ngga betah.
Tidak terucap memang, tapi saya yakin terpancar dari raut wajah yang terus ngga enak ataupun sikap yang… yah bisa dibilang mungkin kurang bersahabat dan cenderung dingin. Pokoknya serba ngga enak ke senior itu. Secara usia, dia lebih tua dua kali lipat daripada saya. Cenderung biasa hidup terlalu nyaman, jadinya malah malas-malasan di basecamp.
Ini bertentangan dengan prinsip yang saya anut. Hidup bersama, tentu suka duka ditanggung bersama. Segala sesuatu yang menyangkut kondisi rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari kebersihan, masak, keuangan, dll. Sayangnya dia (senior saya ini) seperti yang saya bilang seakan tidak mau tau.
Oke lah kalau dia ngga bisa masak, tapi seenggaknya ketika saya atau yang lain masak mbok ya bersih-bersih gitu. Cuci mobil kek, nyapu rumah kek, atau apalah. Bukannya malah duduk cuek nonton berita liputan 6, liputan 7, liputan 8, dll. Apa ngga bikin emosi.
Sampai akhirnya entah kenapa saya tiba-tiba teringat ucapan salah seorang teman, Jet Veet Lev, tentang bagaimana kita mesti lebih mencintai diri sendiri dan selalu berusaha bikin diri sendiri merasa fun (perihal ini saya publish lengkap di Blog Manajemen Diri yang saya kelola). Saya sadar, apa yang saya lakukan selama ini dengan menyimpan semua emosi ngga jelas itu ADALAH KESALAHAN BESAR.
Why? Karena saya memposisikan diri sebagai orang yang sumpek sendiri. Look! Senior saya aja mungkin ngga kepikiran sama sekali untuk sadar atau bahkan mikirin saya dan teman-teman lainnya. Hidup untuk dirinya sendiri. Dan saya bisa apa, karena memang suka tidak suka kami terpaksa hidup bersama sebagai 1 tim.
Saya membuat keputusan. Melakukan sedikit selftalk dan menenangkan hati yang risau. Saya coba menempatkan diri pada sudut pandang senior itu. Beliau sudah berusia jauh lebih tua. Tentu secara fisik dan tenaga lebih lemah, sehingga untuk melakukan aktivitas berlebih tidak sefit saya yang masih muda. Mungkin juga selama puluhan tahun dia sudah menjalani kehidupan yang begitu melelahkan dan menguras emosi serta pikiran. Capek.
Kemudian saya mencoba mengingat ayah saya di Sidoarjo yang juga berusia tidak jauh dari senior ini. Ayah di usia setua itu juga kadang suka rewel dan agak nyebelin. Meski begitu beliau tetap ayah saya dan saya masih menyayanginya. Wajar lah kalau orang makin tua, tingkahnya akan mirip dengan anak kecil yang suka nyebelin.
Hasilnya saya bisa merasa lebih enteng. Ngga terlalu mikirin senior ini. Pelan tapi pasti sikap saya mulai berubah. Dan semua itu dimulai dari mindset yang mengubah sudut pandang saya. Tidak lagi melihat dari kacamata seorang arief, melainkan dari sudut pandang senior itu.
Saya mulai bisa lebih terbuka dan ramah, meski kadang masih juga terselip rasa sebal. Yah setidaknya itu jauh lebih baik daripada tidak ada perubahan sikap. Dan ajaibnya ini memberikan efek! Sikap senior yang tadinya serba cuek kini mulai berubah. Dan bagai lingkaran malaikat, semua saling membaik satu sama lain. Yang tadinya saling dingin, kini bisa ngobrol asik satu sama lain. Menyenangkan sekali.
Ah, saya lupa sebuah hukum yang dulu pernah saya tuliskan. Tentang bagaimana sesungguhnya dunia ini adalah sebuah cermin. Apa yang kita terima adalah hasil dari yang kita pancarkan pada cermin tersebut. Sikap yang kita terima adalah hasil dari sikap kita pada lingkungan sekitar kita.
Well, pada akhirnya kini saya bisa lebih menikmati hidup yang memang seharusnya nikmat dan bisa lebih disyukuri lagi. Tak ada lagi emosi terpendam, kemarahan, apalagi perasaan tidak suka. Yang ada always fun, terserah orang mau sumpek kaya apa. Gimana dengan Kamu? Enjoy your day, brothers, sisters!
Berlangganan Artikel via Email ! Anda akan mendapatkan update terbaru via email dengan memasukan alamat email anda pada kotak di bawah ini lalu tekan "Berlangganan".

An article by


Yup, hidup untuk menikmati hidup ini mamang indah. Daripada mikirin orang nggak jelas, bikin puyeng sendiri. Yang penting apa yang kita lakukan untuk menikmati hidup ini nggak mengganggu orang lain, itu cukup :)
@Erdien, wah pas nih. Thanx tambahannya mas.