Nov
12
2010

Beradaptasi Dengan Cepat Sebagai Problem Solver

Saya ingat ketika masih kuliah dulu, ada senior yang lebih dulu lulus mengatakan bahwa apa yang kita pelajari di kampus, hanya sedikit saja yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Ini dibenarkan juga oleh para dosen. Dan sudah bisa dipastikan, dosen yang belum pernah sama sekali terjun ke lapangan bakal hebat di teori doang.

Ini saya alami sekarang. Banyak sekali hal-hal baru yang saya temui di lapangan sejak bekerja sebagai Ship Owner Surveyor yang mewakili Kementrian Kelautan dan Perikanan mengawasi proses pembangunan kapal riset mereka.

Dari yang paling sepele misalnya, mengenai istilah-istilah yang biasa digunakan oleh orang lapangan. Suka berbeda dengan istilah-istilah versi teori yang notabene menggunakan bahasa inggris dan selalu terdengar keren. Bisa sih saya gunakan istilah itu kalau memberikan komentar atau masukan kepada pelaksana di lapangan, cuma yaitu pasti banyak ngga ngertinya mereka. Jadi mau ngga mau saya juga yang mesti menyesuaikan.

Disamping itu ada hal lain yaitu mengenai penyelesaian masalah di lapangan. Ketika masih kuliah saya ada Tugas Besar yang mesti diselesaikan oleh anak-anak perkapalan sebelum akhirnya menempuh tugas akhir (skripsi). Tugas Merancang, dan jumlahnya ada 3.

Merancang kapal mulai dari nol hingga jadi. Bagi orang awam, kalau melihat gambar-gambar tugas rancang kami pasti berdecakm kagum. Terlihat keren, meski mungkin masih banyak salahnya. Disini, ketika sudah bekerja dan berhubungan langsung dengan pembangunan kapal barulah saya menyadari bahwa kerumitan gambar di tugas rancang itu tidak ada apa-apanya. Butuh gambar yang lebih detil lagi agar bisa dibaca dan dikerjakan oleh para pelaksana di lapangan.

Saya pun sempat berbincang-bicang dengan salah satu pekerja di bagian Planning, Production, and Control (PPC). Dia bercerita banyak tentang pengalamannya. Bahkan sampai ke berbagai belahan dunia. Dan terakhir baru saya tahu bahwa dia tidak kuliah. Yap, pengalaman di lapangan lah yang menempanya.

Dia pun berpesan kepada saya yang notebene adalah surveyor muda. Yang terpenting bukan apa yang didapatkan selama kuliah, tapi bagaimana saya bisa beradaptasi dengan cepat di lapangan dan mengimplementasikan apa yang telah saya pelajari untuk menyelesaikan permasalahan. Bekerjalah dengan baik dan jadilah Surveyor yang jujur dan melaporkan segala sesuatunya apa adanya. Karena ini terkait tanggung jawab moral.

Bisa sih seenaknya, tapi kalau pada akhirnya kapal yang dibangun banyak kurangnya dan membawa korban jiwa ketika berlayar hanya karena ada salah satu bagian dalam proses produksinya yang “asal”? Mungkin bisa saja lepas dari tanggung jawab kepada manusia, tapi kepada Tuhan?

Dalem juga orang ini. Beruntung rasanya saya bisa berbincang-bincang banyak hal dengan beliau. Itulah mengapa alih-alih pasang tampang jutek ala surveyor yang lain dalam menginspeksi, saya lebih suka mencoba akrab namun tetap tegas. Hasilnya? Malah dapat banyak pelajaran hidup yang berharga.

PR untuk saya, cepat beradaptasi dan belajar memberikan solusi atas permasalahan di lapangan yang sifatnya dinamis. Mungkin bukan tanggung jawab langsung, karena hanya Owner Surveyor tapi setidaknya saya mesti bisa memberikan masukan yang benar agar kapal yang selesai dibangun sesuai dengan harapan ship owner.

About the Author: Arief Maulana

Just a simple writer. Menulis apa adanya, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Butuh tulisan yang lebih berbobot? Langsung dah ke www.AriefMaulana.com.

4 Comments + Add Comment

  • Bener dalem banget tuh makna petuahnya Mas :)
    Ngomong-ngomong soal adaptasi, saya rada-rada susah beradaptasi neh. Gimana tuh Tips-nya Mas?

    • @Erdien, terbuka terhadap masukan & mau belajar dari siapapun meski levelnya di bawah kita. Itu mas.

  • sebenernya ini yang saya takutin juga gan….takutnya pas udah lulus malah harus belajar lagi yang bikin semuanya jadi serba lama, saya terus terang sampe sekarang gak suka dengan sistem pendidikan di Indonesia, tapi apa mo dikata, cuek bukan pemecahannya.

    Bandingin antar D3 dan kuliah S1 sekarang justru lebih dapet ilmunya waktu D3, lebih banyak berguna dilapangan (waktu masih kerja).

    Mending kalo tempat kerjanya orangnya bisa di ajak kerjasama dan mau rela ngajarin. Nah kalo tiba2 mereka ngomong “pikir aja sendiri, lo kan lulusan universitas ternama!!” itu yang jadi pikiran saya kadang2.

    Intinya, Ngeri kagok alias gak bisa adaptasi

    • @Zaki, makanya selagi kuliah saya berusaha membangun network, karakter, dan sikap.

      Itu yg bakal berguna. Kuasai ilmu komunikasi karena itu akan menjembatani kita dalam proses belajar.

      Nantinya jangan malu untuk belajar dari siapapun, termasuk yg levelnya di bawah kita. Lepas dulu embel-embel ‘sarjana’nya.

Leave a comment

CommentLuv badge

Berlangganan Artikel

Daftar Email Anda Disini:

Delivered by FeedBurner