2
2010
Refleksi 02/05-10
Sebelumnya untuk semua temen yang bekerja di institusi pendidikan, termasuk pelajar + mahasiswa, saya ucapkan selamat hari pendidikan. Mari kita majukan pendidikan di Indonesia.
Back to reflection. Malam ini saya ingin mengangkat peristiwa kecil yang saya alami hari Kamis kemarin (29 April ’10). Ketika saya menghadap dosen untuk asistensi Tugas Merancang Kapal III.
Waktu itu saya ke kampus membawa 2 gambar berukuran A1 untuk di asistensikan. 1 gambar propeller (baling-baling) dan 1 gambar stern tube. Untung sebelum menghadap saya bertemu adik kelas.
Saya pun coba tanyakan kepada mereka. Kebetulan selain dosen pembimbingnya sama, mereka sudah lebih dulu menghadap.
Hasil konsultasi? Gambar saya banyak salahnya. Dengan kata lain, kalau pun saya bawa ke meja dosen, ada kemungkinan disuruh revisi terlebih dahulu. Barulah ketika sudah benar, bisa lanjut ke materi selanjutnya.
Tadinya saya mau pulang. Membetulkan dulu baru mencoba maju hari Jum’atnya. Tapi saya urungkan. Sudah jauh-jauh ke Surabaya, masa balik tanpa hasil. Bondo nekat aja deh.
Di tengah perjalanan saya dari jurusan ke gedung rektorat (tempat dosen nongkrong), saya inget ada satu kisah di buku karangan Les Giblin masalah komunikasi. Ehm, perlu saya praktekkan nampaknya.
Saya menghadap. Gambar propeller tidak ada masalah karena memang revisi hasil asistensi sebelumnya. Giliran stern tube, dosen langsung mengrenyitkan dahi.
Sebelum beliau sempat berbicara lebih lanjut, tanpa menunggu waktu lama langsung saya sambut.
“Begini Pak, gambar tersebut ada yang salah. Terutama di bagian oil lubricating flow scheme. Tadi saya sudah diberitahukan temen-temen bahwa seharusnya bla bla bla…” Sambil saya sebutkan semua salah-salahnya.
Usai saya berucap, dosen pun mengatakan, “Ya sudah nanti kamu redraw lagi yang bener. Gambarnya ngga usah dibawa lagi. Menghadap berikutnya langsung masalah Ship Launching.”
See! Semuanya lancar. Saya bisa langsung lanjut ke materi selanjutnya. Kadang-kadang mengakui kesalahan itu perlu. Meski suka bertentangan dengan ego kita.
Kasus lain yang serupa pernah saya alami ketika menyalip dari bahu jalan di Tol. Ketika itu dipinggirkan oleh polisi. Sebelum polisi mengeluarkan surat tilang dan berkata apapun, saya mendahuluinya dengan senyum dan mengakui semua kesalahan saya. Akhirnya? Tidak jadi ditilang dan hanya dinasehati.
Bagaimana dengan Anda? Punya pengalaman yang serupa?
Berlangganan Artikel via Email ! Anda akan mendapatkan update terbaru via email dengan memasukan alamat email anda pada kotak di bawah ini lalu tekan "Berlangganan".

An article by


Cerita yang inspiratif mas Arief.