28
2010
Puisi Dari Seorang Kawan #1
#1 Seharusnya
Seharusnya ‘bijak’ menjadi nama tengahmu, agar aku tak lelah ditelisik sedikit-sedikit amarahmu
seharusnya ‘sabar’ menjadi nama depanku, agar tak ada lagi agar-agar basi yang kusisakan dipiringmu.
Menohok lalat-lalat berwarna hijau,
wanginya menyengat,
bagai ranjau,
pada sederet jaring-jaring pukat.
Bijak menyapih sabar,
jadilah pincang,
sabar mencibir bijak,
begitu lancang.
Seharusnya, bijak menari bersama sabar di lantai dansa diterangi kerlip bintang.
Seharusnya,
iya seharusnya…
-
#2 Serenada ‘Sebuah Arsip’ Merah
Seseorang mengatakan cinta mati yang diaduh-aduh pada segelas kopi arabica, hitam pekat tapi mahal!
Sungguh naif, menjual cinta mati pada bilik tulang rusak.
Dia berteriak tak jelas, menjanji cinta semanis madu sekuali gula-gula.
Katanya aku cintaimu, pada samudera hindia, yang , BAH! Luas samudera hindia saja dia tak tahu.
Hitungan waktu memberi, tentu saja batasan pada perasaan itu.
Kau tak tahu, bahwa dia yang katanya bersujud, sumpah, dan segala janjinya untuk kau, telah meluapkan semuanya pada palung bernama ‘sombong’
Dia yakin, kau mampu takluk di kakinya, menyembah-nyembah nelangsa, mengikat dendronmu dengan sianida lekat, sehingga sakau kau!
Dia bersumpah, kau satu-satunya, tercantik dalam galaksi bima-sakti, dimana bumi memiliki putaran revolusi pada matahari.
Tahukah kau? Kecantikanmulah yang akan terbakar oleh panas matahari, seketika saat massa merayap perlahan.
Sebab dia dengan kesombongannya berusaha menancapkan seluruh tentakel cinta, yang dicipta karena ‘sebab’ tanpa ada keikhlasan.
-serenada bulan november-
-
#3 Merengkuh hujan
Semburat titik tak berwarna.
Berkondensasi mencipta partikel uap.
Ada bau yang meruap.
Gurat air tak berwarna.
Sebab pada hujan, Tuhan menitip makna.
Pun pada hujan, anugerah terseok tercipta.
Sebab pada hujan, Tuhan mengguncang murka.
Atas tindak insan yang semena-mena.
Hujan, hujan yang bertumpuk pada awan,
ah, terlalu cepat kau singgah.
-
#4 Limbung
Jantung,
mematung,
bingung,
Tuhan, seketika aku Limbung!
-
#5 Nisan
Batu mirah delima,
bertahtakan pusaka,
jagat bermain kata,
damailah disana. . .
*yang tak terengkuh oleh hati rikuh*
-
#6 Berat sebelah ringan terbuang.
Satu jarak…
Dua jarak…
Tiga jarak…
Berat sebelah!biar ringan kau buang saja!
-
#7 Batu
Rumah kelabu, dinding melebur, bermahkotakan batu!
-
#8 Nyanyian putra abimanyu
Ada lemah
ada lelah
tak ada hitam
tak mampu kelam..
Kau melukis angin percuma..
Hatiku padam seketika..
Kadang meracau..
Kadang berkicau..
Libra : penyeimbang
leo : penguasa hutan
dengar-dengar,tak ada lambang..
Tanpa sudut jalan..
Sejauh mana kau melangkah?
Memberi gurih pada senar aortaku yg sepi..
Pun lelah..
Terlelap oleh mimpi..
Kadang wiruta lebih bijak..
Namun bukan itu..
Kebaikanmu perlu dibajak..
Biar benih mampu tumbuh disitu!
Mau tahu apa?
3 kata buatmu
‘aku ini benalu’
-
Ditulis Oleh : Mutiara Intan Permata
Berlangganan Artikel via Email ! Anda akan mendapatkan update terbaru via email dengan memasukan alamat email anda pada kotak di bawah ini lalu tekan "Berlangganan".

An article by


Dunia ini terasa lebih meriah
Diselimuti pesona kata-kata indah
@Erdien, yup. :)
@Arief Maulana, thank you for publishing all. feel free to interpret it, hermeneutic theory is acceptable. silahkan dikritisi, hehhehe
kagak ngerti gw…yang pasti2 aja dech…