Jan
31
2010

Belajar Dari Tukang Bengkel

Kemarin pagi saya pergi ke bengkel Cak Arifin, di desa sebelah untuk sedikit mereparasi sepeda motor yang agak-agak ngga nyaman digunakan. Bukan karena mesinnya ataupun faktor internal lainnya (lha wong minggu lalu baru diservis), melainkan body sepeda motornya rada nyeleneh gara-gara terperosok ke lubang besar di jalan raya.

Yang paling bermasalah dari semuanya adalah bagian kepala sepeda motor, tempat lampu melekat. Pokok jalan ngga rata dikit aja, langsung bunyi kasar yang dibarengi dengan getaran bagian depan mengganggu perjalanan saya. Apalagi biasanya saya memacu kuda besi itu di kecepatan 80 – 100 km/jam.

Jadilah saya terpaksa berada di bengkel Cak Arifin. Seperti biasa, menghindari antrian yang sungguh membuat waktu produktif, saya datang lebih pagi. Disana ada anak muda yang baru saya kenal. Ternyata itu adalah pegawai barunya Cak Arifin.

Well, nampaknya ada pelajaran baru untuk saya dan ini yang akan saya share ke Anda semua. Waktunya kita sekolah. Dan guru kali ini adalah Cak Arifin selaku tukang bengkel sepeda motor.

# Lesson 1 – Be Creative

Ketika kepala sepeda motor dibuka ternyata di bagian lampu dengan bodynya ada bagian yang patah. Kalau saja ini saya bawa ke bengkel resmi pasti solusinya langsung disuruh ganti satu set. Makanya saya coba di Cak Arifin dulu. And, apa yang terjadi?

Dengan segala kreativitasnya, Cak Arifin bisa memperbaiki. Bagian yang patah itu diikat dengan seutas kawat yang dibentuk sedemikian rapi dan benar-benar mengikat. Padahal ketika saya melihat daerah patahannya, mungkin cukup sulit membentuk sebuah ikatan disana.

Disini Cak Arifin nunjukin kekreativitasannya dan juga ketelatenannya dalam menangani masalah. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya bangsa kita itu banyak loh orang-orang kreativnya. Hanya saja mungkin tidak tersalurkan dengan baik bentuk kreativitas tersebut.

Kreativitas ini tentu ngga datang secara tiba-tiba. Berapa tahun coba Cak Arifin menangani masalah-masalah di sepeda motor yang dibawa orang-orang ke bengkelnya. Mungkin seperti itu salah satu cara menumbuhkan kreativitas. Dengan banyak menyelesaikan masalah. Masalah untuk dihadapi, bukan dihindari.

# Lesson 2 – Make A System

Entah apa sama yang dipikirkan Cak Arifin dengan yang ada di kepala saya. Pelan tapi pasti Cak Arifin sedang berjalan ke arah pembangunan sistem bisnisnya. Awalnya mungkin kerja sendiri. Kemudian karena rame mengangkat mekanik baru.

Makin lama makin rame, tambah mekanik baru lagi. Lama-lama Cak Arifin bisa lepas dari sistem bisnisnya dan ujung-ujungnya tinggal memantau dan menikmati passive incomenya saja. Itu kalau Cak Arifin benar berpikir ke arah sistem. Selama ini, bengkel indie (pinjem istilah indie dulu ah) yang saya tau bersistem adalah bengkel Bang Obet di tanggulangin.

Bengkelnya rame, mekaniknya ada 20 orang kalau tidak salah. Padahal dulu Bang Obet memulainya seorang diri. Sekarang tinggal jadi Obet Pantau. Memantau para mekanik bekerja. Yah, kurang dikit lah untuk benar-benar lepas dan akhirnya passive income.

Nah temen-temen, kalau tukang bengkel aja bisa passive income bagaimana dengan kita? Masa mau kalah. Monggo direnungkan. Dan inilah sekolah kehidupan. Siapapun bisa menjadi guru kita, termasuk tukang bengkel.

Enjoy my blog, happy blogwalking

:cendol

About the Author: Arief Maulana

Just a simple writer. Menulis apa adanya, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Butuh tulisan yang lebih berbobot? Langsung dah ke www.AriefMaulana.com.

23 Comments + Add Comment

  • Pertamax dulu aahh…

    Wah itu baru pemilik usaha yang cerdas. Gak cuma pintar, karena kalo pintar berarti dia akan mengerjakan semuanya sendiri dong, hehehe. :hihi:

    Kita (oke deh, saya) musti belajar dari orang yang seperti ini nih. Sapa tahu ternyata Kang Obet ini nge-blog juga, dan udah punya pendapatan dari GA, misalnya. Wah, tambah minder aku sama dia.

    • @Best DVD Buy, hahaha… Bang Obet sih fokus di bisnis jutawan bengkel pak. :puyeng:

  • tenang mas, ortu saya juga gitu. mereka punya bengkel las dari tahun 1980, dan sampai sekarang masih berdiri dan ramai.. padahal ortu saya gak ada yg bisa ngelas.. cuma nunjuk kiri kanan dapat duit..

    • @mashengky.com, itu bisnisman. Punya sistem, ga perlu turun tangan langsung. Serahkan pada ahlinya di bawah kontrol kita. Hehehe…

  • Ya,Kita harus bisa,karena banyak sarana yg akan membawa kita menuju ke pasive income…

    • @Tjia Ngie, yap. Era informasi banyak menyajikan kemudahan dalam menggapai dream passive income. :sip:

  • Betul Mas..! Hukum sebeb akibat beraksi: Ilmu(pengalaman) x Kreatifitas = Go freedom.!!! setuju gak..?

    • @Wawan Junawan, mantaps neeh rumus hukumnya! :sip:

  • Manusia sebagai ciptaan Tuhan sudah di berikan akal dan artinya “semua manusia” bisa menjadi kreatif.

    Kembali ke diri masing-masing deh!

    • @A9YnD1LV3R, yap. SUkses dan tidaknya seseorang tergantung orang itu sendiri!

  • wah mulai ternak blog nih

    • @Andrik Sugianto, hahaha… yg AM.com mau saya lepas 25juta mas. Makanya ngembangin yg ini! :sip:

  • untuk melangkah yang kedua itu, banyak orang yang tidak mau melakukannya. Entah kenapa bisnis dirumah juga gak bisa berkembang karena masih berlaku hierarki yang sangat kaku, dan tidak mau menerima orang luar. jangankan orang luar, mesin aja gak mau terima.

    • @dreamfrog, itu bedanya self employee dengan business dalam diagram cashflownya Kiyosaki.

      Pebisnis sejati, akan mencari jalan dengan mendelegasikan. Sementara self employee lebih memilih mengerjakan sendiri. Sayangnya pilihan ini makin memberatkan dan menjebak diri mereka saat pekerjaan justru menumpuk.

  • Untuk orang-orang yang hidup dalam “zona bebas”, kreativitas itu niscaya bisa muncul dan berkembang. Tapi, buat orang-orang yang berada di zona “under pressure” seperti ane misalnya, kreativitas itu kebanyakannya mati karena saking banyaknya tekanan. Sepertiga waktu dari hidup ini juga berada dalam pengawasan orang. Gimana solusinya Mas?

    • @Vidzas Erdien, loh biasanya justru yang berada di bawah pressure tinggi, kreativitas dan ide ‘gila’nya malah muncul lho mas. Malah ide ini kadang membawa kita ke zona bebas, tinggal pilih berani apa tidak mengeksekusinya.

      Coba cari buku ‘Power of Kepepet’ di gramedia mas. Banyak ide dan inspirasi dari sana! :sip:

      • @Arief Maulana, Oh gitu Mas. OK, ntar kalo main ke Gramed saya cari tuh bukunya. Makasih infonya Mas! :sip:

  • Wah… Mantab tuh guru kita kali ini.
    Sebenernya saya sudah memikirkan ke arah situ mas.
    Cuma saat ini saya lagi bingung untuk merealisasikan untuk mengangkat seorang karyawan.
    Mohon arahannya.

    • @noto, waduh… ilmu perbengkelan saya ndak paham mas. Tapi biasanya untuk mengangkat karyawan perlu dipertimbangkan ;
      1. Aspek kemampuan karyawan : makanya perlu screening / wawancara.

      2. Aspek financial kita : dengan mengangkat karyawan apakah masih ada profit yang didapatkan.

      3. Aspek produktivitas : kadang-kadang perlu dipikirkan juga, apakah dengan menambah karyawan produktivitas bisa

  • Belum lama membaca tentang belajar dari tukang parkir, sekarang belajar pada tukang bengkel. Saya punya cerita tentang Tukang Mie Ayam. Mungkin bisa dimuat juga nih …
    Ruang belajar memang tidak terbatas.

    • @Bang Dje, boleh Bang. Kalau tidak di share di blognya Bang Dje bisa kirim ke saya. Nanti saya posting dan kasih backlink ke blog Bang Dje. :sip:

  • You made a fair point, but have you thought about how it may affect different people? I don’t say you are wrong, I just need to point out that there is more than 1 side to this story.

  • Mindset seorang yang sukses harus ditanamkan terlebih dahulu sejak awal sehingga jika kita nantinya sukses akan memberikan manfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain. :sip:

Leave a comment

CommentLuv badge

Berlangganan Artikel

Daftar Email Anda Disini:

Delivered by FeedBurner

Healthy Life

Program Diet Sehat