Jan
28
2010

Ini Jalanku Untuk Mengabdi


Hari ini serempak para aktivis mahasiswa melakukan aksi demo, mengkritisi 100 hari kinerja pemerintahan.

Well, itu ngga lepas dari ranah fungsi mahasiswa (di luar kuliah akademik biasa), yakni :
- Agent of Change
- Iron Stock
- Social Control
- Moral Force

Saya masih ingat, ketika maba dulu. 4 fungsi ini ditancepkan betul di sesi pengaderan (red.ospek) ITS, baik yang dilaksanakan di level jurusan ataupun ITS.

Semua proses itu membuat kita jadi idealis secara mendadak. Seakan-akan waktu itu, kita adalah barisan terdepan yang akan setia melaksanakan 4 fungsi mahasiswa ini.

Sayang waktu berkata lain. Ngga perlu menunggu lulus, idealisme itu udah banyak yang luntur.

Seiring berjalannya waktu pun, akhirnya saya bisa menemukan posisi yang pas dimana. Yang jelas bukan di deretan terdepan mereka yang turun untuk meneriakkan keadilan dan aspirasi arus bawah (bhs bunda ini) dalam ranah demokrasi.

Makanya ketika dihadapkan pada pilihan untuk terus aktif di organisasi mahasiswa kelas eksekutif, saya memilih tidak terlalu eksis. Pun di himpunan mahasiswa saya hanya 1 tahun saja, dan itu hanya staf di divisi kewirausahaan.

Lantas dimana idealisme saya? Tetap ada, hanya bentuk penyalurannya berbeda. Alih-alih terjun di garis depan, saya lebih memilih jadi pencetak ‘prajurit’.

Walau mungkin pilihan saya tidak dimengerti oleh beberapa rekan yang terkenal kental idealismenya.

Sampai saya ingat betul bagaimana perjalanan edukasi LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa) hanya bisa sebatas Pra Tingkat Dasar & Tingkat Dasar (materi sebatas manajemen diri dan manajemen kegiatan).

Sebuah penjegalan karena saya enggan untuk terjun di Ormawa. Karena di level LKMM Tingkat Menengah, seseorang sudah harus mau menjadi pemimpin organisasi. Karena materi utamanya adalah Manajemen Organisasi.

Dan karena alasan ini juga karir saya sebagai pemandu LKMM (red.trainer) di kampus hanya sebatas Pra TD – TD saja. Yang pada akhirnya lisensi saya hanya sebatas memberi pelatihan manajemen diri dan kegiatan.

Meski demikian, bukan berarti saya lantas menyerah. Kondisi itu akhirnya memaksa saya untuk otodidak mencari leadership skill di luar. Lewat buku (sebagai referensi) dan lewat bisnis MLM (sebagai bentuk prakteknya).

Tidak ada kata menyesal hanya karena penjegalan itu. Dan itu juga tidak membuat saya dendam kemudian meninggalkan dunia Kepemanduan di kampus.

Malah, itu semua membuat saya ingin membuktikan bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar. Dan beberapa teman pun akhirnya mengaku dan menyayangkan mereka yang mengagalkan upaya saya ikut LKMM TM.

Why? Karena di event LKMM TM berikutnya mereka kekurangan pemandu. Pemandu yang ikut LKMM TM banyak juga yang mundur dari komitmen itu. Hanya mengejar materinya belaka, lupa akan amanah untuk mengajarkan kembali ke generasi berikutnya.

Saya hanya bisa tersenyum penuh kemenangan dan berkata, “Sori, I can’t help you. Aku kan CUMA SAMPAI LKMM TD dan aku HANYA PEMANDU TD.”

Meski ingin, sayangnya teman-teman saya tetap tidak bisa memasukkan saya dalam tim Pemandu TM. Aturan bermain disini, Bung.

Now, what happen? Kemana tuh rekan-rekan yang seperjuangan dengan idealisme kental? Oh, saya lupa. Mereka sudah banyak lulus dan dapat kerja enak.

Lulus dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bagaimana dengan idealisme membangun bangsa ini?

“Aduh mas, jangankan bangsa, urusan perut aja belum kelar.”

Atau mungkin mengulang siklus busuk itu? Mahasiswa idealis (teriak-teriak pro rakyat). Lulus ikut parpol (mencari jalan menuju kekuasaan).

Kemudian menjadi dewan / duduk di pemerintahan (lupa pada rakyat dan kini menjadi kontra). Bersenang-senang di atas penderitaan.

Ga percaya? Silahkan cek background para ‘musuh rakyat’ dan bagaimana idealisme mereka waktu mahasiswa.

Ah, masa saya harus berjuang sendiri? Mana idealisme lamamu sobat?

“Lha kamu sendiri gimana Rief?”

“Masih sama seperti dulu. Jika ada undangan sbg pembicara / trainer aku akan datang dan ‘membangun’ negeri ini.”

“Pun jika tidak, biarkan aku berjuang dan menjadi idealis dengan caraku sendiri.”

“Dengan menulis, dengan membangun mental-mental sukses, dengan membuka jalan pengetahuan bisnis dasar agar setiap pribadi bisa bergerak dan meraih suksesnya masing-masing”

“Dengan menjadi sukses lewat jalur bisnis dan berbagi sisihan penghasilan setiap bulannya. Walau saat ini nominalnya masih kecil.”

“Jangan menyalahkan keadaan, menyalahkan pemerintah, atau orang lain. Salahkan diri sendiri, kenapa tidak mencari jalan sukses itu.”

“Kalau saja setiap pribadi sadar dan memikul tanggung jawab suksesnya sendiri, alih-alih bergantung pada orang lain, maka negeri ini akan makmur dengan sendirinya.”

“Dan mungkin itu alasan ada ayat : Sesungguhnya manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini”

“Dan karena itulah hingga kini Blog Motivasi, Bisnis, dan Manajemen Diri yang kubangun masih tetap berdiri kokoh. Untuk saling mengingatkan. Dirimu dan diriku juga.”

“Dan itulah jalanku mengabdi pada negeri ini. Membangun dengan tulisan dan bisnis.”

“Bukankah lebih baik mencari dan menyalakan lilin daripada terus memaki kegelapan…”

“Wahai sobat, ini jalanku mengabdi pada negeri ini. Bagaimana dengan dirimu? Perjuangan kita belum berakhir…”

Enjoy my blog, happy blogwalking
:cendol

About the Author: Arief Maulana

Just a simple writer. Menulis apa adanya, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Butuh tulisan yang lebih berbobot? Langsung dah ke www.AriefMaulana.com.

18 Comments + Add Comment

  • Pertamax tengah malam…
    :hihi:

    • @Agus Siswoyo,

      Setiap orang punya bidang yang berbeda-beda sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa. Tidak harus demo dan orasi di jalan raya.

      Semua beraksi dalam kapasitas masing-masing. Asal kita bisa memberi kontribusi nyata pada lingkungan tempat tinggal, itu sudah cukup.

      • @Agus Siswoyo, bener sekali mas. Makanya saya suka aneh melihat rekan2 mahasiswa yang memandang sebelah mata mereka yg ngga mo ikutan demo.

        Mengabdi pada bangsa bisa dengan menjadi profesional di bidang masing-masing. Apapun itu jalannya.

        Yang terpenting bisa menjadi manusia bermanfaat bagi manusia yang lain.

        • mas arif yang baik hati dan rajin menabung, maaf pertanyaan saya diluar konteks. bantu saya tntang blog ini mas, blog saya fatal error. sama siapa lagi saya mau mengadu kalau bukan mas, lengkapnya saya kirimkan screeshot di email mas, atas bantuannya diucapkan terimakasih.

  • ingat saat mahasiswa selalu bikin tersenyum, melihat bagaimana kesalahan-kesalahan yang dibuat di masa lalu, ternyata mahasiswa itu cuman anak kecil yang baru bebas dari rumah orang tuanya, belum mampu jadi orang dewasa, dan akhirnya banyak yang berguguran saat bertemu dengan kenyataan yang sebenarnya.

    tapi itulah pembelajaran yang sebenarnya. walau banyak yang gugur seh.

    • @dreamfrog, betul mas. Untung meski mahasiswa, sy berusaha cari temen dgn level di atas saya.

      Membuka cakrawala wawasan, berbagi kebijaksanaan dlm memandang masa depan…

  • Saya harap para mahasiswa berhenti demo anarkis.Mendingan alat demo untuk bakar-bakar kaya ban,minyak tanah itu dibuat menjadi benda yang bermanfaat.

    • Begitu itu kalau ditunggangi pihak2 tertentu atau berdemo dgn emosi bukan logika…

  • Berjuang tidak identik dengan hrs turun ke jalan. Banyak hal yang bisa kt lakukan berdasarkan idealisme dan kemampuan msg2. Termsk jg sy mas, sy sndiri kayak ms arief, lebih suka mengisi forum2 keilmuan,menulis, memotivasi dan membangun teamwork. Diluar itu bukan kapasitas sy. Yg penting setiap bagian hrs mengambil peran membangun negri ini. :thanks2 :iloveindonesia

    • @arkum, nah ini baru pemikiran yg bijaksana.

  • Keknya ikut demo juga kemarin ya mas…? :sup: :iloveindonesia

    • @Handoko Tantra, demo sy dgn tulisan ini mas. Bukan utk pemerintah tp untuk rekan2 mahasiswa yg sok idealis. Hehehe…

  • waktu jadi mahasiswa, saya sibuk ngeband mas.. jadi gak sempet demo2an.. kecuali bikin demo lagu terus saya kirim ke aquarius musikindo.. :melet:

    • @mashengky.com, hahaha… saya sibuk MLMan mas. :hihi:

  • Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
    Usirlah mereka dengan revolusi
    Bila tak mampu dengan revolusi,
    Dengan demonstrasi
    Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
    Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

  • Bener mas,, Bener,,

    saya sering sekali di terkena “bullying” anak2 oknum (sekali lagi oknum) dari BEM maupun yang rajin organisasi,, gara2 saya gak pernah ikut aksi (baca: demo) or ikut kegiatan2 yang bagi mereka itu “bagus”,,

    terkadang saya berpikir kalo mereka itu terlalu sok idealis,,
    ya bener2 terjadi, ketika saya tanya balik,, “Lah,, kamu ikutan BEM or organisasi gitu knapa?? knapa trus2an ngeluh??capeklah,, duh nyita waktu lah,,gak enaklah,,”

    yang bikin saya agak tegelitik, ketika mayoritas dari mereka menjawab ” diajak temen, ngikut temen aja, or ngisi waktu aja,,, dan yaaaaaaa mauuu gimanaaa lagi???”

    saya cuma pengen teriak “tolol!”
    idealis bgt ketika mereka cuma “mengekor” temen2 meraka juga yang sama2 “mengekor” or gak tau tujuan utama mereka melakukan kegiatan / ikut partisipasi itu,,

    saya sendiri cuma mengikuti himpunan mahasiswa saja,, itupun sudah saya jalani (Insya Allah) dengan baik,,

    “udah gak usah pinter2 di kampus tuh,,, yang penting ikut organisasi yang banyak aja”
    mayoritas perkataan yang saya dapet dari OKNUM anak organisasi yang sok idealis,,

    • @Lingga Aditya Prayuda, ikutan organisasi klo ga pinter jg percuma mas.

      Sy kebetulan sudah bekerja. Disini yang dibutuhkan adalah org yg pintar beradaptasi dan cepat belajar hal-hal baru. Ga peduli semasa mahasiswanya rajin ikut organisasi atau tidak.

  • @mas Arif: Nah itu dia,, kadang2 saya merasa aneh sendiri,,, tujuan utama kuliah kan untuk belajar,,, bukan gila organisasi,,

Leave a comment

CommentLuv badge

Berlangganan Artikel

Daftar Email Anda Disini:

Delivered by FeedBurner

Healthy Life

Program Diet Sehat